Feed on
Posts
comments

tulisan ini kuikutsertakan dalam Writing Competition CIBFest 2009

Kamis, 19 Juli 2001 ( pukul 22:35 WIB )

Sam, apa kabar ?

Semoga kamu tetap segar bugar dan tetap cakep selalu ya !  He…he…he… biar banyak cewek-cewek yang naksir ( hmmm, maunya tuh…..! ).  Kalo aku di sini sih lumayan lah!  Thanks untuk buku ceritanya ya !  Kamu tau aja aku suka banget ama bukunya Andar Ismail!  Thank you banget yaaa… cup..cup..cup…!

Kamu udah mulai flu ya, mangkanya, jaga badan, bung !  Rajin makan, istirahat, olah raga, pokoknya jangan sembarangan deh!  Believe me, sakit itu nggak enak!  Kagak ada enak-enaknya!  Mangkanya, sebelum sakit beneran, kamu cepet-cepet minum segala macam vitamin deh, mulai dari A sampe Z kalo bisa, trus makan makanan empat sehat lima sempurna dan jangan lupa banyak-banyak istirahat!  Usir semua penyakit sebelum dia datang dan berkuasa di tubuhmu.  Oke?  Siipplahh….!

Oya, aku kemarin kenalan dengan seorang cewek, namanya Tasya.   Anaknya cakep deh Sam!  Kulitnya putih bersih, matanya indah, apalagi rambutnyaaa……!  Rambutnya hitam legam dan tumbuh subur.  Ughh, pokoknya cakep Sam!  Sayangnya dia kena leukemia.  Masih stadium awal sih, tapi dia shock juga waktu tau penyakitnya!  Langsung frustasi gitu, Sam!  Biasalaaahh…Sam, sindrom penyakit gawat darurat!  Mulanya pasti shock dan ketakutan.

Aku juga dulu gitu kan, Sam?  Rasanya seperti mau memasuki lubang kubur aja, kayak mau siap-siap disemayamkan!  Tegang, takut dan frustasi banget!  Pengennya langsung mati saja, tapiii…takuutt juga.  Pokoknya nggak bisa digambarkan deh, Sam.  Hhhaahh…kebayang deh perasaannya Tasya.  Hanya saja umurnya belum divonis oleh dokter, jadi mungkin ketakutannya nggak sebesar ketakutanku dulu ya!  Ataauuu…. Mungkin juga lebih besar.  Yaaaah… nggak ngerti juga ah!

Oya Sam, kemarin lagi asyik-asyik nulis surat, badanku rasanya sakit buangeett….!  Dan ternyata aku kejang-kejang lagi, Sam.  Bahkan sempat masuk ruang ICU segala.  Sekarang sih masih rada susah ngomong, tapi sudah cukup membaik sih.  Tapi tulisanku jadi semakin cakar ayam aja ya?  Jangan protes, ini juga kutulis dengan penuh perjuangan.  He…he…he…

Ughh. sepanjang minggu ini teman-teman dan sodara-sodaraku pada datang, Sam.  Mereka pikir aku udah mau lewat kali ya!  Mungkin bener juga ya, aku mungkin hampir lewat kemarin itu Sam!

Gimana ya Sam, hidup di alam sana?  Ataauuu…tidak ada kehidupan di sana?  Mungkin hanya kegelapan abadi yang ada di sana!  Mungkin orang-orang sengaja mengarang cerita-cerita yang indah mengenai kehidupan di alam sana untuk menenangkan pesakit-pesakit seperti aku ini, Sam!  Karena…dari mana mereka tahu ada kehidupan yang indah di alam sana  kalau mereka belum pernah ke sana ?  Apakah semua itu bohong Sam?  Apakah cerita tentang surga dan neraka itu gombal semua ???

Tiba-tiba aku jadi takut nih Sam!  Aku nggak pengen mati…aku mau hidup terus, walaupun harus kayak begini terus, aku bersedia!  Aku nggak mau mati, Sam!  Aku nggak mauu…!

Jika Tuhan memang ada, mengapa Dia begitu jahat padaku?  Mengapa orang lain bisa hidup sampai seratus tahun, meskipun mereka tidak menginginkannya?  Mengapa aku untuk mencapai usia tujuh belas saja sulitnya minta ampun?  Bahkan setengah dari usiaku kuhabiskan di tempat tidur!!!  Dan untuk hidup yang terlalu singkat ini pun, aku harus bergantung dengan obat-obatan yang menyebalkan ini !!!  Aku harus bergantung pada infus, jarum suntik, pil-pil, tablet-tablet, dan seluruh barang rongsokan ini  !!!

Ups, sori ya Sam, aku jadi emosian gini.  Mungkin karena pengaruh ketegangan seminggu kemarin ya?  Walau sudah terlalu sering, tapi aku tidak pernah terbiasa dengan tatapan kematian yang kulihat di mata-mata sahabat-sahabat dan saudara-saudaraku yang mengunjungi aku di rumah sakit ini.  Sinar mata mereka mematahkan semangat hidupku.  Aku sih tahu persis Sam, kalau hidupku memang tidak lama lagi.  Tapi aku saat ini masih hidup!  Aku tidak mau mereka menatapku seolah-olah aku sudah mati.  Seolah-olah aku akan mati di depan mereka!  Seolah-olah semua usaha dan semangatku sia-sia!

Yaa….memang…..akhirnya aku juga pasti akan mati Sam!  Tapi aku masih ingin terus bersemangat hidup!  Aku ingin hidup, Sam!  Aku sungguh-sungguh ingin tetap hidup Sam!  Sia-siakah semangatku itu Sam?  Sia-siakah semuanya ini?  Ahhh…..tapi toh itu juga yang membuatku bertahan sampai saat ini.  Hehe, semua ramalan dokter itu sudah kupatahkan!  Pertama-tama mereka bilang kalau aku hanya bisa bertahan selama enam bulan.  Lalu mereka meralat menjadi satu tahun.  Lalu menjadi dua tahun.  Tiga tahun….. dan akhirnya mereka sekarang tidak pernah berani lagi meramal hidupku.  Dan buktinya sampai sekarang, tujuh tahun semenjak aku divonis, aku masih tetap bertahan kan Sam?  Hehe….

Oke deh Sam, udahan dulu yahh…

Aku mau istirahat nih.  Suster Alya sudah bolak-balik menatapku tajam.  Hehe, bibirnya cemberut aja dari tadi karena tidak bisa menyuruhku istirahat.  Hihi….  Ya udah… jangan lupa balas suratku secepatnya ya Sam…  Aku senang membaca surat-suratmu.  Hehe, GBU!

Sabtu / 25 Agustus 2001 ( pukul 20:15 WIB )

Halo Sam!  Aku senang sekali waktu menerima suratmu kemarin.  Rasanya benar-benar exciting!

Kamu benar Sam!  Aku jadi malu waktu kamu mengatakan bahwa Tuhan sama sekali tidak punya kepentingan membuktikan keberadaan diriNya kepada kita.  Tapi Dia tetap melakukan itu, bukan demi kepentinganNya, tapi untuk kita juga.  Supaya kita bisa dekat kepadaNya dan mendapat kekuatan dari Dia yang adalah penguasa segalanya.

Dan kalau kita masih tidak bersedia mempercayaiNya, setelah bukti-bukti yang sebenarnya sudah banyak bertebaran di sekeliling kita akan kehadiranNya, sebenarnya yang paling rugi adalah kita!  Karena akhirnya kita hanya bisa mengandalkan kekuatan kita.  Mengandalkan kekuatanku sendiri?  Hahaha…….padahal kekuatan apa yang kumiliki dengan tubuh ringkih seperti ini ya Sam?

Kamu tahu?  Waktu membaca surat kamu kemarin, aku langsung menangis karena malu telah meragukan Dia.  Aku lalu sadar, bahwa selama tujuh tahun yang berat ini, Dia yang selalu menyertaiku.  Makanya aku bisa bertahan, tetap semangat dan tetap berjuang dengan sisa-sisa kekuatanku yang sudah hampir habis ini.  Hehe, aku bodoh ya Sam?

Kali ini aku sudah tidak terlalu takut lagi Sam, untuk pergi ke dunia lain itu.  Aku mulai sering berdoa dan mendapatkan kekuatan dari Tuhan.  Dan entah mengapa, sekarang aku mulai percaya dengan surga dan neraka.  Aku kini percaya akan kehidupan setelah kematian.  Aku bersandar kepada Dia, Sang Pemilik Kehidupan.   Terima kasih ya Sam.  Surat kamu yang kemarin itu benar-benar mengiris kesombonganku.  Menyayat keangkuhanku.  Dan menertawakan kebebalan hatiku.  Dan aku berterima kasih untuk itu.

Kini aku justru ingin pergi Sam.

Akhir-akhir ini seluruh tubuhku sakit melulu.  Dua minggu ini badanku kejang-kejang terus dan beberapa kali harus dibawa ke ruang ICU.  Tulang-tulangku serasa rontok semua.  Kepalaku berdenging terus sepanjang hari sepanjang waktu.  Mataku berkunang-kunang terus.  Makanya aku tidak bisa membalas suratmu dengan segera.  Aku benar-benar menyerah Sam.  Aku ingin pergi.  Pergi dari tubuh yang menyesakkan ini.  Meninggalkan penyakit yang sangat betah di badan ini.  Jika penyakit ini tidak mau meninggalkan tubuhku, mungkin memang lebih baik aku yang meninggalkannya.  Jika tubuhku lebih memilih segala sakit penyakit ini dibanding jiwaku ini, aku saja yang mengalah.  Aku saja yang meninggalkan tubuh ini.

Salahkah aku Sam?  Salahkah aku merasa seperti ini?  Salahkah aku yang ingin pergi?  Yang menyerah melawan penyakit-penyakit itu?  Mereka menang!  Aku saja yang mengalah…..  Tubuhku lebih mencintai mereka dibanding jiwaku ini.  Aku lelah Sam…..

Sangat lelah….

Sudah dulu ya Sam.  Kepalaku mulai berdentam-dentam lagi nih.  Jangan lupa balas suratku ya Sam.  Thanks.  GBU.

Jumat, 4Oktober 2001 ( pukul 21:00 WIB )

Dear Sam,

Maaf  ya kalau kamu jadi kesal dengan suratku yang lalu.  Aku sadar kalau aku memang terlalu gampang menyerah.

Kamu benar Sam.  Hidup matinya kita itu milik Tuhan.  Tugas kita hanyalah berjuang sebaik-baiknya.  Bukan takut mati ataupun justru ingin mati.  Aduuhh…teringat itu aku jadi malu Sam.

Oya Sam, ingat Tasya yang kuceritakan dulu?  Cewek cantik yang terkena leukimia stadium awal?

Nah, beberapa waktu yang lalu dia putus asa Sam.  Marah-marah sepanjang hari dan menyusahkan semua orang yang ada di sekitar dia.  Dia tidak mau makan, tidak mau dijenguk dan bahkan tidak mau minum obat!

Setelah sekian lama, aku tidak tahan melihatnya seperti itu Sam, ku hampiri dia lalu aku paksa dia untuk makan dan minum obat.  Dia bahkan tidak bisa menolak aku sedetik pun.  Pokoknya aku galak sekali waktu itu Sam.  Hehe…

Tapi setelah itu kami pun ngobrol-ngobrol lama Sam.

Dia ketakutan dan marah sama Tuhan (persis seperti aku  dulu ya Sam?)  karena penyakitnya ini.  Lalu aku pun menceritakan pengalaman ku selama 7 tahun dan bagaimana perasaanku selama itu.  Menyakitkan dan memang sangat sulit.  Tapi aku meyakinkan dia bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan dia.

Trus dia menangis Sam.  Seperti anak kecil yang megeluarkan semua kesedihannya.  Dan kemudian dia pun mau menemui orang tua nya, dokter dan bahkan teman-temannya yang menjenguk dia.

Sam, aku senang sekali!

Akhirnya aku merasa berguna kembali…

Setelah tujuh tahun aku merasa tidak berguna, tidak bisa apa-apa dan hanya menyusahkan semua orang, kini aku sadar bahwa aku bisa dipakai Tuhan melalui penyakit ini.

Sekarang aku sering berkeliling Rumah Sakit ini Sam.  Menyapa pasien-pasien yang ada, dan khususnya mengajak ngobrol pasien-pasien yang putus asa.

Dan ternyata, banyak sekali yang bisa ku lakukan Sam!

Tuhan itu baik sekali ya Sam?

Aku melihat begitu banyak mujizat di tempat ini.  Hati yang dipulihkan.  Hidup yang disegarkan.  Cinta kasih yang melimpah-limpah.  Hal-hal yang tidak terpikirkan bisa ku lihat di tempat ini, di tengah-tengah keputusasaan seperti ini.

Dan aku pun merasa disegarkan setiap kali aku menyapa orang-orang dan ngobrol dengan mereka.

Tahu tidak?

Tasya sudah mulai mengikuti ku berkeliling rumah sakit dan mengajak ngobrol beberapa orang.

Ternyata, ketika Tuhan hadir di hati kita, Dia juga akan menggerakkan kita untuk berbuat sesuatu bagi sekitar.  Dalam keadaan dan kondisi apapun Dia mau memakai kita untuk kemuliaan namaNya.  Seperti Dia mau memakai aku ya Sam, dalam tubuh yang ringkih dan berpenyakitan seperti ini.

Thanks ya Sam untuk nasihat dan kesabaranmu selama ini.  Jangan lupa balas suratku.  Oke?  GBU always….

Tidak Benar-Benar Sendiri

tulisan ini diikutsertakan dalam Writing Competition CIBFest 2009

Selama berabad-abad, manusia selalu ketakutan dengan “rasa kesepian”

Dan kita pun berlomba-lomba “bersosialisasi” dengan mencari kenalan, teman, sahabat dan bahkan pasangan jiwa sepanjang hidup ini.

Pertemuan di kafe-kafe, janji dengan sahabat-sahabat, pencarian teman hidup, berusaha gaul ke mana-mana, makan malam bersama, dan semua usaha-usaha untuk menghindari “rasa kesepian” itu.

Terkadang ada yang segera meresmikan hubungannya hanya karena takut tidak mendapat kesempatan lagi untuk mendapat pasangan yang lebih baik dari yang sekarang, dan bukan karena memang benar-benar merasa sang pacar adalah ”pasangan jiwa”-nya.

Ketakutan merasa ”kesepian” di hari tua adalah salah satu ketakutan terbesar beberapa orang saat ini. Bayangan akan ”kesendirian” di hari tua membuat banyak orang berlomba-lomba mencari pasangan hidup dengan kilat.  Apalagi jika ”rasa kesepian” itu sudah mulai melanda di usia saat ini.  Wah, kebayang bagaimana rasanya jika usia sudah beranjak senja nanti….??

Dengan berpasangan, berarti akan ada yang menemani saat ini, masa mendatang dan di hari tua nanti. Minimal ada anak-anak yang akan terus di sekitar kita sampai menutup mata nanti.  Itulah pemikiran sederhana kebanyakan orang, sehingga mereka menetapkan hukum ”harus menikah” pada segi kehidupan ini.

Untuk sebagian wanita dan pria yang menentang pemikiran di atas, lalu berusaha mencari teman-teman, sahabat-sahabat, yang diyakini akan terus menyertai mereka hingga kapan jua.  Mempersiapkan hari tua mereka dengan merangkul orang-orang di sekitar yang niscaya akan terus menemani mereka.Sehingga tidak merasa ”kesepian” nantinya!

Lalu ada beberapa orang yang sadar maupun tidak sadar keluar dari ”pribadi”-nya sendiri, demi sebuah hubungan.  Demi pertemanan dan demi penerimaan lingkungan.  Demi sesuatu ikatan yang ”mungkin” akan menjamin dirinya tidak ”kesepian” dan sendirian.  Lalu dia takut tidak disukai lingkungan, dan sadar tidak sadar dia mulai bersikap sesuai dengan ”permintaan” sekitar.

Ya!

Semua demi menghindari yang namanya ”rasa kesepian” yang terkadang sangat menakutkan.  Dan bahkan mungkin merupakan salah satu penyebab terbesar bunuh diri saat ini.

Ketika rasa di hati sudah hampa. Ketika semua terasa kosong.  Dan tidak ada seorang pun yang mengerti secuil jiwa yang menangis ingin diisi.  Secuil jiwa yang tersudut di relung hati.

Kesepian…

Sendirian…

Dan aku tercenung.


Tersadar bahwa akupun termasuk dari salah satu kategori tersebut.

Aku pun membenci yang namanya ”rasa kesepian” itu.

Perasaan ”aneh” yang bisa saja menelusup ke hati di saat sekitarku sedang hingar-bingar.

Perasaan yang bisa saja tiba-tiba meracuni tawaku yang sedang merekah lebar!

Perasaan yang ternyata tidaklah tergantung pada berapa banyak sahabat yang kita punyai.Atau berapa teman yang sedang di sisi kita saat ini.  Atau bahkan ada atau tidak adakah pacar yang menemani diri kita saat ini.

Tetapi, perasaan itu tergantung pada, seberapa dalam sahabat-sahabat mengerti jiwa ini.  Seberapa jauh sang pacar menyadari irama jiwa ini.  Bagaimana teman-teman mengenali diri ini sampai ke sudut-sudut relung hati.

Aku ingin memastikan, bahwa meskipun sampai akhir nanti aku harus sendirian, aku tidak akan pernah benar-benar sendiri.

Meskipun sahabat-sahabat, teman-teman atau bahkan teman hidupku nanti ternyata tidak pernah mengerti warna jiwa ini.  Namun aku tidak akan pernah benar-benar kesepian.  Karena jiwa ini dimengerti oleh Dia, Sang Pemilik hidupku ini.


Meskipun sahabat-sahabat akhirnya sibuk dengan kehidupan masing-masing, dan bahkan pasangan jiwa pun tetap tak menghampiri, aku akan memastikan bahwa diri ini tidak akan ”kesepian” di saat menutup mata nanti.  Karena jiwaku diisi oleh-Nya.  Dan aku harus terus hidup di samping-Nya, memegang tangan-Nya.  Dan pada akhirnya nanti, meskipun raga ini berakhir sendirian, tetapi tidak akan benar-benar sendiri.

Love U Jesus.

(Ajar aku untuk selalu hidup dalam-Mu, dan ampuni aku atas kenakalanku yang tak pernah berhenti berusaha lari dari-Mu)

Integritas

“Hmm….dapat berapa bagian tuh?”

atau

“Kamu bayar berapa bisa masuk ke sana?”

Aku benar-benar kesal dengan pertanyaan-pertanyaan itu!

Sama juga kesalnya dengan tatapan menuduh, meskipun tidak diungkapkan secara verbal, tapi aku tahu bahwa mereka mengira bahwa institusi tempatku bekerja itu penuh dengan korupsi, dan secara tidak langsung (atau juga mungkin memang langsung ya?) menuduhku ikut-ikutan korupsi…..

Hhhhaaahhh…….mereka tidak mengenal L - A - L - A  kalo  begitu!

Dan untukmu yang membaca blog ini, aku tegaskan ya :

BANK INDONESIA adalah salah satu kantor paling bersih yang pernah aku ketahui!

Serius….

Aku pernah kok kerja di swasta….

Dan aku tahu bahwa di swasta pun tak sebersih itu…..

Bagian marketing?

Purchasing?

Administrasi?

Halah….semua banyak celahnya, jika memang berniat……

BUT sekali lagi ingin kusampaikan, di Bank Indonesia bahkan kecil sekali celah untuk melakukan korupsi….

Itu yang membuatku bangga bekerja di institusi ini, meskipun banyak mata memandang tak percaya ketika aku katakan hal itu.  Banyak yang menatapku seakan-akan aku menceritakan dongeng siang hari ketika kukatakan bahwa di Bank Indonesia, aku SAMA SEKALI tidak pernah menemukan korupsi dalam lingkungan kerjaku.

Itu yang membuatku NYAMAN di institusi ini.

Aku tidak harus bertarung dengan hati nurani,

Dan aku justru HARUS jujur dalam melaksanakan tugas-tugasku

Hanya itu yang ingin kusampaikan saat ini temans….

Jangan tanyakan padaku masalah institusiku yang kerap wira-wiri di televisi beberapa waktu ini.  Maaf, aku tidak berhak comment tentang itu….

BUT, sebagai pegawai Bank Indonesia, aku hanya ingin menyampaikan pada segelintir pembaca blogku ini, bahwa Bank Indonesia bukanlah sarang penyamun, dan bukanlah dipenuhi oleh pegawai-pegawai korup.

Seperti kata bosku yang selalu mengingatkan ku untuk teliti dalam masalah anggaran, “Lala, di Bank Indonesia ini, uang seribu rupiah pun harus bisa dipertanggungjawabkan!”

Bagaimana aku tidak bangga berada di tengah-tengah institusi ini?

Imel Band

Agustus-an lagi…brati nge-band lagi..!  Hehe…

Tapi….tahun ini terjadi re-shuffle bidang yang menyatukan pemain-pemain handal di bidang kami.  Band tahun lalu pun bubar dan digantikan dengan band tahun ini yang ternyata yahudd abiss….

  • Untuk drum kali ini dipegang ama drummer handal, Mas Yoyok, yang ahli memainkan segala jenis lagu di segala jaman dan segala suasana…
  • Dan khusus bas, dipegang ama teman seangkatan-ku Samuel, yang petikan bas-nya benar-benar pas dan asyik banget…
  • Untuk gitar, masih dipegang ama Mas Edwin, dengan segala efek dan keahliannya yang mempercantik lagu…
  • Untuk pianis?  Hehe…jangan ditanya….tetep Acay…..si komponis band kami tahun lalu!
  • Bagian vokal masih dipegang ama aku dan Mas Ary, trus ditambah dengan kak Linda untuk memantapkan seksi suara agar tidak kalah ama seksi musik yang jago-jago banget itu.

Mulailah kami latihan, dari milih lagu….sampe benar-benar siap ama penampilan kami sebanyak…mmm…sekitar 4 kali.  Dan semuanya kumplit..plit..plit…setiap latihan.  Kali ini setiap kali latihan rasanya enjoy aja…seru…karena kemampuan semua pemain merata dan memiliki kurang lebih selera musik yang hampir-hampir sama.  Atau….mmm…..sebenarnya memiliki jaman yang kurang lebih sama yaa??? (but not me….hehe..)

Akhirnya memutuskan lagu “Tak Ku Duga” dan “Celebrate” dengan tetap mengandalkan aransemen lagu yang nyomot kiri-kanan, plus mempertunjukkan kelincahan jari-jari Acay menari-nari di atas tuts piano….dan gebukan drum Mas Yoyok yang keren dan asyik abis….plus betotan bas Sam yang bermain-main sebagai dasar semua musik kita….dan tidak lupa petikan gitar Mas Edwin yang piawai menimpali permainan piano Acay….

Dengan kondisi seperti itu, ditambah dengan vokal yang spesial latihan khusus satu hari untuk bagi-bagi suara dan tugas, aku sih cukup yakin kalo penampilan band kami nanti cukup meyakinkan lah…hehe

Dan….

Meskipun yakin, tapi surprise juga kalo band kami bisa Juara 1…karena bener deh…aku tuh kayanya belum pernah deh merasakan aura juara 1 uhh…rasanya…mmmm…mmmm…mmmm…..!  Wonderful…!

Hahhh…puas rasanya!

Bagiku merupakan sebuah kehormatan bisa bergabung dengan band ini.  Rasanya menyenangkan sekali menjadi salah satu anggota band ini, yang terdiri dari orang-orang hebat dan lucu-lucu…

Thanks to all,

Thanks to My “Email Band”

(nama ini diambil asal aja, karena semua anggota band hobi banget online dan email2an sepanjang hari dan sepanjang waktu…hehe)

Rasa pedih memang tidak mudah disingkirkan,

Karena rasa itu lahir dari berbagai rasa,

Sedih, sakit hati, dikhianati, kehilangan, marah,


Tidak semudah itu mengumbar maaf,

Tidak segampang itu wajah berseri dan mengatakan, “It’s okay!”

Karena rasa itu harus diurai dulu satu per satu,

Disembuhkan dulu satu per satu,

Dan ketika rasa pedih itu belum juga berlalu,

Aku hanya mampu “bersahabat” dengannya,

Dan merasakan hatiku semakin hancur,

Namun senyumku harus kembali bersinar,

Agar dunia tahu, bahwa “Aku baik-baik saja”

Bogor, 28 Juni 2009

Older Posts »